Kenapa Manusia Suka Tawa dengan Mulut Terbuka?


Sebagian besar orang suka tertawa dengan mulut terbuka. Selain terdengar lebih enak, tertawa dengan mulut terbuka dan spontan, ternyata juga lebih disukai lawan jenis.

Ilmuwan menemukan bahwa tertawa dengan mulut terbuka lebih berdampak positif ketimbang sekadar senyuman atau tawa tertahan. Menurut mereka, tertawa dengan mulut tertutup, terdengar seperti bunyi resleting dan menimbulkan perasaan tidak nyaman.

Temuan ini menunjukkan bahwa sejak kecil, manusia belajar untuk beradaptasi dengan tertawa yang terbahak-bahak dan mulut yang terbuka lebar. Ini menunjukkan pengalaman hidup yang lebih positif dan menyebarkan rasa bahagia.

Sementara tawa juga mudah menular jika dilakukan dengan mulut terbuka. Hal ini karena manusia mempelajari sisi emosional orang lain dari suara tawa yang memiliki berbagai jenis tingkatan akustik dan tangga nada.

Profesor Michael Owren, psikolog eksperimental dan koleganya dari Georgia State University, Atlanta, melakukan uji coba dengan memberikan 50 rekaman suara tertawa kepada koresponden. "Kami ingin mencari tahu keterikatan emosi positif saat tertawa," kata Owren.

Ini semacam respons yang tidak disadari bahwa kita telah membangun seluruh kehidupan secara signifikan. Pembelajaran itu juga mempengaruhi cara orang menafsirkan peristiwa tawa dalam situasi sosial sehari-hari.

Robert Provine, ahli syaraf di University of Maryland mengatakan bahwa tawa sebenarnya merupakan akar dari kehidupan manusia."Kita sedang berhadapan dengan sesuatu yang menjadi sifat dasar manusia. Walaupun ada ribuan bahasa dan ratusan dialek, semua orang tertawa dengan cara yang sama," kata Provine.